63 Tahun Beroperasi, Warga Hanya Mendapat Debu dan Desing

inhu 5

Kondisi rumah warga Desa Sungai Limau saat malam hari (dok. FITRA Riau)

“Enam puluh tahun beroperasi, warga hanya mendapatkan debu dan desing”, ungkap Batin Madi Kepala Adat Suku Talang Mamak yang tinggal di Desa Sungai Limau. Desa Sungai Limau merupakan wilayah terdampak dari kawasan pertambangan Minyak dan Gas Blok Binio. Warga seringkali mendengar bunyi desingan dari mesin kilang minyak yang sedang beroperasi.

Blok Binio hadir di Desa Sungai Limau, Kecamatan Rakit Kulim, sejak tahun 1950an. Sampai saat ini ada 40 sumur minyak dengan lufkin yang sebagian besar masih aktif. Menurut data BPS Kab. Indragiri Hulu, Blok Binio ini merupakan blok migas dengan produksi terbesar di Kab. Indragiri Hulu. Sayangnya, besarnya produksi blok ini belum berdampak pada layanan dasar bagi warga sekitar. Dalam layanan dasar listrik misalnya, saat malam hari rumah-rumah penduduk masih gelap gulita tanpa listrik, dan menggunakan pelita sebagai penerang.

Menurut masyarakat Desa Sungai Limau, dulu pernah ada listrik desa, namun saat ini hanya tinggal jaringannya saja.Tidak adanya listrik sebagai sumber penerang tentu menghambat kaum muda Desa Sungai Limau saat belajar di malam hari.

Bukan hanya layanan dasar listrik, infrastruktur jalan menuju Desa ini juga masih sangat jelek. Jalan menuju Desa Sungai Limau masih berupa tanah yang jika musim penghujan tiba, maka jalanan akan licin dan becek sehingga sulit dilalui. Sejak otonomi daerah dilakukan, belum ada upaya pemerintah kabupaten untuk mengaspal jalan poros desa. Menurut Kepala Desa Sungai Limau Pak Inci, “Sejauh ini pembangunan infrastruktur tergolong lambat. Sama halnya dengan Desa Siambul, pembangunan jalan yang lambat ini dikarenakan untuk mengajukan pembangunan desa harus menggunakan sistem rangking di tingkat kecamatan yang mensyaratkan adanya dukungan dari desa lain.”

Masih minimnya infrastruktur (jalan) dan layanan dasar listrik, tentu berpengaruh terhadap kondisi pendidikan masyarakat. Mayoritas penduduk Desa Sungai Limau berpendidikan Sekolah Dasar hingga SMP. Lulusan SMA apalagi sarjana masih minim di desa ini. Penyebab masih rendahnya pendidikan, disebabkan banyak hal. Seperti tidak adanya angkutan umum, sehingga anak-anak pergi sekolah (SMP dan SMA) biasanya menggunakan sepeda dan atau sepeda motor. Sampai jauh ini, menurut Pak Inci tidak ada dorongan materil bagi anak lulusan SMA untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Data Masterplan percepatan Penanggulangan Kemiskinan Kab. Inhu (2012) menunjukkan, Kecamatan Rakit Kulim adalah Kecamatan dengan jumlah terbesar anak yang tidak bersekolah se-Kabupaten Inhu.

Romagia dari FITRA Riau menyampaikan, “sarana pendidikan di Desa Sungai Limau masih sangat minim. Seperti ruang belajar Kelas Jauh SD 019 Talang Sei Limau dengan kondisi yang memprihatinkan, ruang kelas seadanya dengan dinding kayu dan beratapkan daun.”

Menurut warga, sampai saat ini belum ada upaya langsung dari perusahaan migas dalam perbaikan fasilitas sosial, fasilitas kesehatan, dan fasilitas pendidikan. Bahkan, saat warga meminta perbaikan kondisi jalan, perusahaan migas yang beroperasi kurang menunjukkan niat baiknya.

Hal lain yang masih menjadi ironi adalah Alokasi Dana Desa yang diterima Desa Sungai Limau masih sangat kecil, ditambah dengan 70% ADD dialokasikan untuk belanja aparatur dan operasional kantor desa. Serta, Desa Sungai Limau tidak mendapatkan bagi hasil dari pertambangan sektor migas yang beroperasi di Desa Sungai Limau.

Tentu hal inilah yang harus diperjuangkan oleh warga desa, agar yang mereka terima selama ini bukan hanya debu dan desing saja. Tetapi juga dana bagi hasil yang sesuai dengan perhitungan potensi penerimaan, serta alokasi anggaran yang difokuskan untuk penanggulangan kemiskinan, pemenuhan layanan dasar pendidikan, listrik, dan kesehatan.