Bojonegoro Kembangkan Resource Center Penanggulangan Kemiskinan Berbasis IT

peta

Peta Kemiskinan yang dikembangkan oleh Bojonegoro Institute. (Sumber: www.bi.or.id)

Bojonegoro, Maret 2015. Persoalan mendasar dalam strategi dan program penanggulangan kemiskinan adalah ketersediaan dan akses data, termasuk intergrasi data antar-dinas terkait dalam penanggulangan kemiskinan di daerah. Hal tersebut diperparah dengan persepsi birokrat yang menganggap bahwa data pemerintah masih dianggap rahasia, sulit diakses, bersifat sektoral serta belum menjadi milik semua SKPD. Akibatnya, program-program penanggulangan kemiskinan ditengarai tidak efektif karena tidak adanya kesinkronan program yang tepat sasaran dan ditopang oleh data yang kuat. Tidak heran jika data tersebut juga sulit diakses oleh publik. Padahal, sekarang adalah era keterbukaan. Pemerintah harus terbuka jika ingin kebijakannya didukung oleh masyarakat, termasuk terbuka dalam memberikan akses publik atas data yang dimiliki pemerintah.

Untuk membantu hal tersebut, Bojonegoro Institute bekerjasama dengan Publish What You Pay Indonesia atas dukungan Ford Foundation melakukan asistensi Pemerintah Kabupaten dalam mengembangkan resource center berbasis teknologi informasi. Salah satu inisiasi tersebut dicontohkan dengan pembuatan peta kemiskinan. Dalam peta kemiskinan ini, ditampilkan beberapa jenis peta dengan berbagai macam data, yaitu: (1) Peta Desa yang meliputi: Data Alokasi Dana Desa (ADD), Gerakan Desa Sehat Cerdas, Beras untuk Rakyat Miskin (Raskin); (2) Peta Kecamatan yang meliputi data: pendidikan, PDRB, penduduk miskin, basis data terpadu, PPLS, dan raskin; (3) Peta Provinsi yang meliputi potensi desa, penduduk miskin, IKRar (Indeks Kesejahteraan Masyarakat), dan IPM Jatim. Menariknya, karena Bojonegoro termasuk salah satu kabupaten penghasil migas, pada peta Desa, juga dicantumkan ADD proporsional berbasis Migas.

Menurut Direktur BI Syaiful Huda, “tahap selanjutnya Peta ini akan  terus dikembangkan dengan menampilkan data-data potensial Kab. Bojonegoro, sehingga peta ini bisa membantu pemangku kebijakan dalam menyusun perencanaan dan program penanggulangan kemiskinan. Selain itu, para akademisi, peneliti dan pegiat LSM/OMS serta pelajar dan mahasiswa dapat memanfaatkan Peta Kemiskinan untuk lebih berpartisipasi dalam penanggulangan kemiskinan; dengan mengkaji, membuat analisa, rekomendasi/usulan/inovasi serta mengawasi  kebijakan penanggulangan kemiskinan di daerah.”

Sejauh ini, respon dari pemerintah Kabupaten Bojonegoro sangat positif. Menurut Sekretariat TKPKD Bojonegoro, Junaedi, “peta kemiskinan ini sangat bermanfaat khususnya untuk menyusun kebijakan perencanaan maupun pelaksanaan para stakeholder mulai dari Kabupaten hingga tingkat desa. Juga sebagai bentuk keterbukaan data dan informasi serta transparansi anggaran bagi masyarakat, sehingga semua pihak baik pemerintah, pengusaha, organisasi masyarakat sipil, akademisi, juga masyarakat miskin bersinergi dalam penanganan kemiskinan.”

Peta Kemiskinan merupakan salah satu produk dari Resource Center TKPKD yang selama ini dibangun. Dimana TKPKD sebagai Resource Center harapannya bisa menjadi pusat kegiatan, koordinasi, integrasi, validasi dan monitoring percepatan penanggulangan kemiskinan di daerah. Responsif terhadap perkembangan dan kondisi kemiskinan di daerah. Serta menjadi wadah penyaluran aspirasi, inovasi, gagasan, program dan kebutuhan masyarakat miskin.

Rencananya, peta kemiskinan ini akan dirilis pada awal Mei 2015. Saat ini masih dilakukan proses entry data, dan menunggu website TKPKD selesai. Karena, menurut Syaiful Huda, peta kemiskinan ini selain dipasang di website BI (www.bi.or.id) juga akan ditampilkan di website pemkab Bojonegoro dan website TKPKD. Peta kemiskinan yang menggunakan aplikasi statplanet ini mengeluarkan biaya hanya sekitar 395 US$. Melalui aplikasi ini, data kemiskinan dapat ditampilkan menjadi lebih user firendly dan menarik, serta mudah diekspor dalam bentuk exel yang mudah diolah.

Jika membaca data statistik berupa tabel bisa membuat dahi anda berkerut, ini tidak terjadi saat mengakses data lewat aplikasi ini. Peta kemiskinan ini juga tidak memerlukan proses instalasi yang rumit, selama ada software pendukung Adobe Flash Player. Kabar baiknya juga peta kemiskinan ini bisa diakses melalui smartphone dan PC.

Peta Kemiskinan yang sedang dirampungkan ini membuktikan bahwa selalu ada inovasi dalam pembangunan ketika good will hadir di pemerintah dan masyarakat. Yang masih menjadi PR setelah peta kemiskinan ini selesai adalah pemanfaatan data yang digunakan dalam penanggulangan kemiskinan masyarakat di daerah. [Asr, Ary, Mary]