Potensi Tambang di NTB Belum Meningkatkan Kualitas Hidup

Friday, 1 May 2015

MATARAM – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terdiri dari beberapa pulau, merupakan penghasil bahan tambang dam emas dan pasir besi yang tersebar di Lombok dan Sumbawa. Bahan tambang tersebut ada yang diolah oleh pertambangan rakyat dan ada juga yang diusahakan oleh perusahaan multi-nasional.

Dari empat lokasi se NTB, terdapat kandungan emas yang memiliki potensi 357,501 ton emas, dari dua lokasi terdapat kandunga perak 712,638 ton dan satu lokasi saja yang dikelola PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) kandungan tembaganya 4,7 juta ton.

Tetapi menurut Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Mataram Isfanari Iskandar, besarnya penerimaan dari sektor pertambangan tidak serta merta diikuti oleh peningkatan kualitas hidup masyarakat. ‘’Hal ini terlihat dari Indeks Pembangunan Manusia,’’ kata Isfanari Iskandar.

Isfanari Iskandar berbicara di depan pegiat lembaga swadaya masyarakat dan media dalam acara diskusi public Mengoptimalkan Manfaat Pertambangan Bagi Kesejahteraan Masyarakat yang diselenggarakan oleh Solidaritas Masyarakat untuk Transparansi bekerja sama dengan Publish What You Pay Indonesia dan Universitas Muhammadiyah Mataram, Rabu 29 April 2015.

Indeks pembangunan manusia (IPM) provinsi NTB sebesar 67,73 dan Kabupaten Sumbawa Barat 67,85. Keduanya masih berada di bawah angka rata-rata nasional (73.81). Sedangkan dilihat dari angka kemiskinan, provinsi NTB juga masih berada di atas angka rata-rata nasional (sekitar 11 persen), yakni di angka 17.24 persen.

Tantangan lain yang dihadapi oleh NTB, menurut Isfanari Iskadar, yang tidak kalah penting adalah bagaimana mengotimalkan manfaat dari peluang divestasi NNT yang menjadi bagian dari penerimaan daerah. Melalui berbagai skema kerjasama dengan berbagai pihak, sejatinya pemerintah daerah hanya memiliki 6 persen saham PT.NNT dari skema divestasi tersebut.

Salah satu perusahaan multi-nasional tersebut adalah PT NNT yang merupakan perusahaan tambang terbesar kedua di Indonesia. PT NNT mencatatkan produksi sebesar 305.000 ton konsentrat pada tahun 2014. Dimana pada tahun 2014 tersebut, Provinsi NTB dan Kabupaten Sumbawa Barat masing-masing mendapatkan alokasi Dana bagi hasil (DBH) sebesar Rp. 26,966 miliar dan Rp 52,825 miliar.

Proyek tambang Batu Hijau seluas 200 hektar mengelola potensi kandungan terukur 353,808 ton emas, 708,738 ton perak dan 4,7 juta ton tembaga.

Koordinator Publish What You Pay Indonesia Maryati Abdullah, memaparkan potret buram pertambangan di NTB. ‘’Perusahaan tidak penuhi jaminan reklamasi dan pasca tambang,’’ katanya mengutip data Direktorat Jenderal Minerba Kementerian Energi Sumber Daya Mineral dan Direktorat Jenderal Planologi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengenai praktek tambang yang baik. Selain itu, ia juga mengemukakan potensi kerugian sewa lahan selama tiga tahun 2010-2013 sebesar Rp 6,3 miliar dari Sumbawa.

Tetapi berbeda dengan pendapat Ketua Tim Kordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah Mala Rahman yang juga Wakil Bupati KSB. Sejak adanya tambang PT NNT, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang berdiri 2003 telah menetapkan wajib belajar 12 tahun da membebaskan biaya sekolah. Selain itu, KSB juga memberikan akses kesehatan tanpa perlu bayar mulai dari tingkat desa/kelurahan, minimal ada bidan dan perawat kalau tidak ada dokter yang melayaninya.

Menurutnya, melalui pendidikan akan menghilangkan kemiskinan. Sebab, jika dibiarkan tanpa pendidikan maka kemiskinan itu akan turun temurun. Katanya, bahwa 90 persen kebodohan mengakibatkan kemiskinan. ‘’Kami mengubahnya melalui pendidikan,’’ ujarnya.

Mala Rahman pun menjelaskan bahwa kesehatan juga diperhatikan karena jika anak-anak tidak sehat maka tidak bisa pergi ke sekolah. Bedan rumah penduduk pun dilakukan sejak tahun 2011 sebanyak 500 unit hingga 2012 – 2013 lalu mencapai 4.000 unit. ‘’Semua ini dilakukan bersama Newmont,’’ ujarnya. Namun ia menambahkan bahwa sebenarnya rumah tradisional penduduk adalah berbentuk panggung tetapi tidak berarti miskin karena warga ada yang memiliki ternak kerbau hingga 200 ekor.

Disebutkan bahwa kalau semula KSB merupakan daerah miskin kini menjadi berada di urutan ketiga setelah Kota Mataram, Kota Bima di Nusa Tenggara Barat.

Penduduk KSB sebelum beroperasinya penambangan Batu Hijau PT NNT banyak yang tidak tamat Sekolah Dasar. Kini sudah ada yang memiliki pendidikan Pasca Sarjana baik strata 2 maupun strata 3.

Pelaksana Tugas Manajer Social Responsibility Planning Faozan Maulad menyebutkan angka pembiayaan pengembangan masyarakat yang dikucurkan perusahaannya sampai tahun 2014 lalu sudah mencapai US $ 144 juta.

Data PT NNT menyebutkan bahwa selama kwartal pertama 2015, produksi tembaganya mencapai 109 juta ton dan 107 ribu ton emas. Target produksi konsentrat PTNNT selama 2015 tembaga 590-640 juta pond an emas 200 – 220 ribu ons. Negara tujuan ekspor adalah Jepang, Korea, Filipina dan lainnya. Kontribusi PTNNT selama 2014 termasuk pembayaran pajak, royalty, CSR, Gaji pegawai sebesar lebih dari US $ 488 juta. Sedangkan kontribusi keseluruhan sejak 2000-2014 sebesar US $ 9,3 miliar termasuk pajak, royalty, gaji dan benefit karyawan, CSR maupun deviden. Adapun total pembelajaan barang dan jasa dari 300 lebih pemasok dan kontraktor Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) sejak tahun 2001 s/d 2014 yaitu USD 396,349,000 atau sekitar Rp3,96 triliun.

Manager Social Responsibility Syarafuddin Jarot menjelaskan bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan, PT NNT melakukan pemberdayaan kesehatan, ekonomi, pendidikan, sosial budaya dan lingkungan. Rata-rata biaya CSR sebesar Rp 50 miliar setahun da dana khusus selama 2010-2014 sebesar US $ 47 juta. ‘’Kami sudah membangun 43 sekolah baru,’’ ucap Syarafuddin. Sejak 1998 sampai dengan 2014, PT NNT sudah memberikan beasiswa kepada 14.353 orang siswa yang berprestasi yang dananya mencapai Rp 22,5 miliar.

Ia juga menunjuk perolehan hasil program tersebut adalah di bidang kesehatan yang semua angka balita gizi buruk 2004 sebesar 10,11 persen menjadi tersisa 0,67 persen pada tahun 2013. Malaria yang pada tahun 1999 mencapai 26 persen tersisa 0,99 persen pada Juni 2014. Pendapatan rumah tangga penduduknya yang semula Rp 347 ribu pada tahun 1995 menjadi Rp 4,918 juta pada tahun 2013. Setelah dibangunnya tujuh bendungan oleh PT NNT produksi padi yang sebelumnya 2005 sebanyak 4,6 ton per hektar menjadi 9,6 ton pada tahun 2014 lalu. Juga 13 puskesmas, puskesmas pembantu dan posyandu. Bahkan juga membangun 12 instalasi air bersih dan sanitasi.

Mengenai reklamasi, Syarafuddin Jarot pun mengemukakan tidak ada masalah. ‘’Semuanya kami lakukan hingga progress tahun 2038,’’ ujarnya. Ada pembibitan tanaman dan juga penangkaran penyu dan satwa lainnya.(sk)

Sumber : LombokNews.Com

Link Terkait :

Sudah Optimalkah Pemanfaatan Tambang Bagi Kesejahteraan di NTB ?