PWYP Selenggarakan Workshop bagi TKPKD Daerah Pilot

Peserta yang hadir dari 4 daerah pilot (KSB, 20-22 Jan 2015). Sumber: dok. PWYP Indonesia

Peserta yang hadir dari 4 daerah pilot (KSB, 20-22 Jan 2015). Sumber: dok. PWYP Indonesia

Sumbawa Barat-PWYP Indonesia menyelenggarakan workshop bertema “Penyusunan Strategi Program Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Multidimensional Poverty Index (MPI) dan Pengembangan Resource Center di Daerah Industri Migas dan Tambang” yang berlangsung pada 20-22 Januari 2015. Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Bupati Sumbawa Barat ini, mengundang peserta dari Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) di 4 daerah yaitu Kab. Aceh Utara, Kab Indragiri Hulu, Kab. Bojonegoro, dan Kab. Sumbawa Barat.

Kegiatan ini merupakan bagian dari peningkatan kapasitas stakeholder di daerah pilot project dari program Reversing Resource Curse (RRC) yang diinisiasi oleh PWYP Indonesia atas dukungan Ford Foundation. Program ini melihat adanya ancaman kutukan sumber daya (resource curse) terhadap daerah-daerah yang kaya akan sumber daya alam. Terjadinya kutukan sumber daya ini ketika kekayaan SDA yang dimiliki suatu daerah tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakatnya.

Workshop strategi penanggulangan kemiskinan bagi TKPKD ini khususnya memberikan paparan mengenai pendekatan multidimensi dalam menganalisa sebab kemiskinan, sehingga dapat disusun prioritas intervensi dari program-program penanggulangan kemiskinan di daerah. Selain itu, dalam workshop ini juga dipaparkan teknik pengembangan resource center dan pengintegrasian data-data kemiskinan sebagaimana dikembangkan oleh SAPA (Strategic Alliance for Poverty Alleviation). Dalam workshop ini dikenalkan metode MPI (Multi-dimentional Poverty Index) yang pertama kali dikembangkan oleh Universitas Oxford di Inggris, pada tahun 2010.

Pada Workshop yang berlangsung selama 3 hari ini mengemuka pembahasan mengenai pentingnya penguatan TKPKD dan program kemiskinan yang berbasis kebutuhan masyarakat, melalui perencanaan pembangunan dan anggaran yang memadai, agar tepat sasaran, efektif dan tidak tumpang tindih. Pelatihan ini juga memfasilitasi peserta untuk praktek secara langsung dalam menyusun pemenuhan kebutuhan dan sinkronisasi data kemiskinan, sehingga data menjadi valid, akurat, dan dinamis, dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Bachtiar, salah satu peserta dari TKPKD Aceh Utara menuturkan Pelatihan seperti ini kami butuhkan juga di Aceh Utara, agar kami dapat langsung mempraktekkan keterampilan tersebut di daerah kami”. Sedangkan menurut Bapak Junaidi dari TKPKD Bojonegoro menyampaikan “kami tertarik dengan penggunaan teknologi informasi ini, saya langsung berkoordinasi dengan bapak Bupati, dan beliau tertarik untuk diterapkan di kabupaten Bojonegoro, apalagi bapak Bupati juga telah mendorong  adanya open data dalam pemerintahan”. Workshop ini juga diikuti dengan sharing pengalaman dengan komunitas sekitar tambang, serta diakhiri dengan kunjungan ke area pertambangan PT. Newmont Nusa Tenggara. [Asr, Ary, My].