Melihat “Blok Migas Abu-Abu” di Bojonegoro

14 April 2015 16:45 WIB

“Kayak Texas di Amerika Serikat kan,” ujar seorang warga Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, yang keberatan namanya dikorankan. Komentar singkat itu disampaikan ketika Suara Merdeka masuk ke kawasan sumur minyak tua di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan.

Tiang pancang dari besi dan kayu jati tampak berdiri di mana-mana di kawasan perbukitan dan lembah di Desa Wonocolo. Kawasan yang luasnya sekitar 50 hektar lebih itu kini menjadi tumpuan harapan bagi investor, penambang, dan pekerja minyak sumur tua di sana. Ada sumur minyak peninggalan zaman Kolonialisme Belanda yang masih produksi hingga sekarang. Tapi, banyak pula sumur minyak hasil drilling (pengeboran) tiga atau lima tahun lalu.

“Itu sumur minyak milik Pak Narto peninggalan Belanda yang tetap berproduksi hingga sekarang,” kata Mijan (82), warga Desa Wonocolo yang lebih 40 tahun bekerja di sumur minyak tua peninggalan Belanda.

Tak jauh dari lokasi sumur minyak milik Narto, ada sumur minyak yang di-handle Yos (40) yang baru 3 tahun dibor dan telah menghasilkan minyak. Di kawasan perbukitan dan lembah di Desa Wonocolo itu, ada ratusan sumur minyak tua maupun yang baru dibor. “Sumur minyak baru rata-rata pengeborannya memakai peralatan modern. Yang lama itu peninggalan Belanda,” ujar Yos.

Jumlah sumur minyak baru di kawasan Kecamatan Kedewan, Malo, dan Kasiman Kabupaten Bojonegoro menyeruak sejak tahun 2006 lalu. Dari tempo ke tempo, jumlah sumur minyak baru terus bertambah dengan landasan hukum yang abu-abu. Jadi, kemungkinan besar ilegal terkecuali yang diusahakan korporasi hulu migas yang telah memiliki izin dari pemerintah.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan, secara nasional, jumlah sumur minyak tua di Indonesia mencapai 13.824 sumur. Wilayah sebarannya di Sumatera Bagian Selatan dengan 3.623 sumur; Sumatera Bagian Utara dengan 2.392 sumur; Kalimantan Selatan dengan 100 sumur, Jateng, Jatim, dan Madura dengan 2.496 sumur; Papua dengan 208 sumur, dan Seram dengan 229 sumur.

Di wilayah Jatim, khususnya di kawasan Bojonegoro, jumlah sumur tua cukup banyak. Data PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi (PT PEP) menyebutkan, jumlah sumur minyak tua di wilayah PT PEP Field Cepu mencapai 255 sumur. Sebaran terbanyak berada di Kabupaten Bojonegoro, selanjutnya Kabupaten Blora, Jateng.

Realitas di lapangan berdasar data PT PEP menunjukkan, total jumlah sumur tua di wilayah kerja pertambangan (WKP) PT PEP Field Cepu sebanyak 550 sumur. “Ada 295 sumur minyak tua yang diusahakan tanpa izin/ilegal. Itu yang harus segera ditertibkan,” kata Manager Humas PT PEP, Muhammad Baron kepada Suara Merdeka beberapa waktu lalu.

Beberapa waktu lalu, Panglima TNI Jenderal Moeldoko bersama petinggi PT Pertamina, seperti Dirut Dwi Soetjipto, Direktur Hulu Syamsu Alam, anggota DPR RI Satya Yudha, dan lainnya meninjau langsung aktifitas eksploitasi dan produksi di sumur minyak tua di Wonocolo.  Jenderal Moeldoko mengatakan bahwa TNI akan membantu menertibkan penambangan sumur minyak tua di Bojonegoro yang pengelolaannya melanggar ketentuan. Pihaknya akan memberi sanksi kepada anggota TNI yang terlibat dalam pengelolaan sumur minyak tua di daerah itu.

Tiga Level Operasional

Apa saja? Investor,  pemilik sumur minyak tua. Investor ini sebagian kecil warga lokal Desa Wonocolo, Kedewan. Sebagian besar warga luar kota “Pemiliknya ada yang dari Jakarta, Surabaya, Semarang, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Kabarnya, pernah ada investor dari Jepang coba masuk ke sini,” ujar seorang penambang yang keberatan disebutkan namanya.Kawasan perbuktikan dan lembah di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan yang menjadi ‘Blok Migas Abu-abu’ diusahakan banyak orang dan kelompok masyarakat. Berdasar data penelusuran Suara Merdeka ke lokasi, Kamis (9/4), menunjukkan setidaknya ada tiga level kelompok yang terkait dengan pengusahaan dan operasional sumur minyak tua.

Saat Suara Merdeka melakukan investigasi ke lapangan, di lokasi sumur minyak tua banyak berseliweran kendaraan MPV double cabin dengan nopol dari luar Bojonegoro (S). Banyak kendaraan dengan nopol awal L (Surabaya), H (Semarang), B (Jakarta), K (Kudus), dan lainnya. “Katanya, investor dari Jepang itu sempat merugi karena sumur minyak yang dia beli kandungan dan produksi minyaknya sedikit,” ujar Yos, warga lokal.

Level kedua, penambang yakni orang dan atau kelompok orang yang diberikan wewenang dan tanggung jawab oleh investor untuk mengawasi, mengoperasikan dan menjalankan proses eksploitasi dan produksi minyak mentah sehari-hari dari sumur minyak yang dimiliki investor. Persentase pembagian hasil antara investor dengan penambang itu kisarannya 75%:25% atau 70%:30%.

Untuk tingkatan ketiga adalah pekerja, yakni orang atau kelompok orang yang melakukan kerja operasional di satu sumur minyak tua. Di satu sumur minyak tua kisaran jumlah pekerjanya antara 10 sampai 25 orang. “Ada yang bekerja sejak pukul 07:00 WIB sampai 11:00 WIB lalu pukul 12:00 WIB sampai 16:00 WIB,” ujar Mijan.

Lama kerja atau operasi itu, menurut Yos, tergantung jenis sumur minyaknya. Ada istilah sumur kuras, yakni jenis sumur minyak yang seharian penuh digenjot berproduksi, sehingga pekerja bekerja full time. Jenis kedua, sumur minyak biasa, yakni sumur minyak yang tiap 4 jam sekali dieksploitasi dan berproduksi. Setelah itu, aktifitas produksi dihentikan. “Aktifitas produksi di sumur minyak peninggalan Belanda ini pukul 16:00 WIB sudah dihentikan,” kata Ambari yang dibenarkan Mijan.

Dalam sehari, total produksi dari sumur minyak tua yang legal mencapai 1.075 barel per hari, sedang dari 295 sumur minyak tua ilegal yang beroperasi memproduksi minyak mentah per hari sebanyak 1.085 barel. Dari total produksi minyak mentah sebanyak itu, baru 1.600 barel per hari yang diterima depo minyak PPP Menggung yang dikelola PT PEP di Kecamatan Cepu, Blora.

“Ada sekitar 300 sampai 500 barel minyak per hari dari sumur tua yang dijual ke pengepul atau penadah,” jelas Muhammad Baron.

Operasional sumur minyak tua di Wonocolo, Kedewan tampaknya minim sentuhan regulasi pemerintah. Nyaris tak ada campur tangan pemerintah menangani dan meng-handle masalah ini. Secara administratif, penambangan minyak sumur tua di Wonocolo masuk wilayah Perhutani. “Ini tanah Perhutani,” ujar Ambari (70), seorang pekerja sumur minyak tua.

Eksploitasi dan proses produksi minyak yang dilakukan secara tradisional dan sembrono di “Blok Migas Abu-abu” ini membahayakan lingkungan, pekerja, dan efek buruk lain. Pengamatan Suara Merdeka menunjukkan, hanya di “Blok Migas Abu-abu” aktifitas penambangan minyak di mana pekerjanya sangat bebas merokok di mana-mana. “Kalau tak merokok tak enak, Mas,” ujar Mijan sambil tersenyum.

Aspek health, safety, dan environment (HSE) yang sangat diperhatikan dan dijunjung tinggi dalam aktifitas dan operasi dunia migas tak berlaku dalam operasi migas di “Blok Abu-abu” ini. Pekerja, penambang, investor, dan warga yang berseliweran melewati kawasan “Blok Migas Abu-abu” bebas menyulut rokok dan merokok di mana pun.

Pekerja sedang mengoperasikan mesin penarik sling yang berfungsi mengangkat dan menurunkan tabung untuk mengambil minyak mentah dari casing sumur minyak, pekerja yang mengarahkan tabung minyak mentah ke wadah tumpahan minyak mentah, melakukan penyulingan minyak mentah menjadi minyak solar, dan lainnya, nyaris semuanya merokok.

“Ya pernah terjadi kecelakaan kerja, seperti kabel sling putus, sumur minyak terbakar, dan lainnya. Tapi, semuanya mampu diatasi. Kalau ada kejadian, baru pemerintah kabupaten (Bojonegoro) turun. Setelah itu tak ada lagi. Paling kembali lagi kalau mau pemilihan bupati, pemilu legislatif, dan pilpres,” ujar Yos yang dibenarkan banyak pekerja sumur minyak tua lainnya.

Tak Paralel dengan Kesejahteraan

Apa itu sumur minyak tua? Sesuai dengan Permen ESDM Nomor 1/2008 tentang Pedoman Pengusahaan Pertambangan Minyak Bumi pada Sumur Tua, disebutkan bahwa sumur tua adalah sumur minyak bumi yang dibor sebelum tahun 1970 dan pernah diproduksikan serta terletak pada lapangan yang tidak diusahakan pada suatu wilayah kerja yang terikat kontrak kerja sama dan tak diusahakan lagi oleh kontraktor.  Sehingga bisa dikatakan jika masih diusahakan oleh kontraktor kontrak kerja sama secara otomatis belum termasuk kategori sumur tua.

Filosofi keluarnya regulasi tentang pengusahaan sumur minyak tua itu bersifat normatif dan ideal. “Filosofinya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar sumur tua, menambah produksi minyak nasional, meningkatkan PAD, dan mengikutsertakan partisipasi masyarakat dalam wadah KUD/BUMD untuk mengusahakan sumur tua,” tegas Muhammad Baron.

Bagaimana kenyataannya? Memang, ada pelibatan KUD dalam pengusahaan  sumur minyak tua di Bojonegoro. Sejak 2012, ada tiga KUD terlibat pengusahaan dan bisnis sumur minyak tua. Pertama, KUD Karya Sejahtera yang berada di Kecamatan Malo. KUD Karya Sejahtera ini meng-handle 33 sumur minyak tua, masing-masing 16 sumur minyak tua di Ngudal dan 17 sumur minyak tua di Wonosari.

Kedua, KUD Sumber Pangan yang mendapat kontrak sebanyak 110 sumur minyak tua, yang terdiri 26 sumur di Beji dan 84 sumur di Dangilo. Ketiga, KUD Usaja Jaya Bersama dengan kontrak 114 sumur minyak tua. Rinciannya di Wonocolo dengan 62 sumur minyak dan 52 sumur minyak masuk wilayah Dangilo. “Sumur minyak tua yang kontraktual/berizin 255 sumur. Selain itu, ya tanpa izin,” tegas Baron.

Minyak yang inheren dengan kesejahteraan kelas wahid dan mentereng itu, seperti kita lihat di banyak negara di kawasan Timur Tengah (Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Oman, dan lainnya), ternyata berbanding dengan kualitas hidup warga Wonocolo, khususnya pekerja sumur minyak tua. “Istilah sumur minyak tua itu identik dengan usia pekerjanya yang tua-tua,” ujar Abdul (38), seorang warga Bojonegoro yang menemani Suara Merdeka investigasi ke sumur minyak tua Wonocolo

Upah pekerja sumur minyak tua adalah mingguan. Mereka terima bayaran seminggu sekali setiap hari Kamis. Besaran nilai bayaran tergantung hasil produksi minyak mentah dari sumur minyak tua yang dikelola. Per minggu, kisaran upah yang diterima pekerja Rp 250 ribu sampai Rp 500 ribu per pekerja. “Kalau pas hasilnya bagus bisa Rp 500 ribu seminggu. Kalau jelek, ya kadang Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu per minggu,” ujar Mijan yang dibenarkan Ambari.Rata-rata pekerja di sumur minyak tua juga berusia tua-tua. Mijan, misalnya, kini usianya memasuki 82 tahun. Dia sehari-hari bekerja mengarahkan timba minyak mentah yang terbuat dari besi baja yang bentuknya memanjang dengan berat sekitar 300 kilogram, dengan tongkat kayu jati yang ujungnya ada dua belahan. Pun demikian dengan Ambari (70), yang hanya mampu menyekolahkan ketiga anaknya sampai SD dari kerja kerasnya sebagai pekerja di sumur minyak tua selama puluhan tahun.

Satu sumur minyak tua yang bagus mampu menghasilkan tiga sampai empat barel minyak mentah per hari. Di mana satu barel minyak itu setara dengan 159 liter. Produksi dari sumur minyak tua itu ada yang langsung dijual ke PT Pertamina melalui KUD dalam bentuk minyak mentah. Sebagian lainnya dijual dalam bentuk minyak mentah yang telah disuling secara tradisional dan sederhana menjadi minyak solar. Minyak solar itu dijual ke mana, itu ranahnya penambang, bukan pekerja. “Ya, pokoknya cukup untuk membiayai hidup sehari-hari,” kata Yos.

(Ainur Rokhim/CN41/SMNetwork)

Sumber : Suaramerdeka.com