Munculnya ‘Bahasa Positif’ di Sakitar Tambang Migas di Bojonegoro

“Akhir-akhir ini di sekitar beroperasinya tambang mulai muncul penggunaan ‘bahasa positif’,” ujar Abdi, penggerak sosial di sekitar kawasan tambang migas di Bojonegoro pada SatuDunia pada 11 Oktober 2017 lalu, “Salah satunya adalah mengganti kata kawasan ring 1 dengan tetangga.”

Dalam sector pertambangan dikenal istilah kawasan ring 1, 2 dan seterusnya. Kawasan itu untuk menggambarkan daerah terdampak operasi pertambangan. “Istilah kawasan ring 1 dan seterusnya itu menimbulkan konotasi negative, sementara tetangga lebih berkonotasi positif,” jelasnya.

Bahkan, lanjut Abdi, saat muncul aroma yang menyengat di kawasan tambang, tidak lagi menggunakan istilah aroma beracun. “Istilahnya sekarang adalah apakah ikut merasakan aroma yang berbeda,” ujarnya, “Istilah aroma beracun itu negative dan aroma yang berbeda lebih positif.”

Penggunaan ‘bahasa positif’ di kawasan pertambangan migas di Bojonegoro, menurut Abdi, lebih fair. “Istilah ring sebagai pengganti istilah kawasan terdampak bisa juga menjadi bias, karena terdampak lebih pada dampak buruk,” ujarnya, “Sementara belum tentu dampaknya buruk. Tetangga lebih pas dan fair.”
Begitu pula istilah aroma berbeda untuk mengganti istilah aroma beracun.

Apakah fenomena penggunaan ‘bahasa positif’ di kawasan sekitar tambang migas di Bojonegoro adalah sesuatu yang netral? Mungkin perlu penelitian mendalam mengenai persoalan ini. Namun, penggunaan bahasa positif ini pernah juga terjadi pada saat Orde Baru berkuasa. Pada saat Orde Baru berkuasa, istilah miskin diganti dengan istilah ‘prasejahtera’.

Penggantian istilah miskin menjadi prasejahtera itu menurut Fathur Rokhman dan Surahmat dalam bukunya ‘Politik Bahasa Penguasa’ , tidak sekedar penghalusan. Penggantian istilah itu bernuansa politis. Istilah tersebut telah menguntungkan pemerintah Orde Baru. Dengan istilah prasejahtera, rakyat miskin mempresepsikan dirinya sebagai menuju sejahtera bukan miskin. Sehingga tidak ada alasan bagi rakyat miskin untuk menunjukan ketidakpuasannya terhadap pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *